Skip to main content

Kisah Debitur : Perjalanan Bandeng Bram - Berita / Program - Salam PIP

Jun 15 2021

Kisah Debitur : Perjalanan Bandeng Bram

Authors list

Berawal dari 25 tahun yang lalu, Ibu Eni Saptoyuni atau akrab dipanggil Ibu Eni bersama dengan suami merintis sebuah usaha di bidang kuliner, yaitu Bandeng Bram di awal pernikahannya. Ibu Eni melihat bahwa ikan bandeng merupakan makanan yang tergolong mahal bagi masyarakat di Kabupaten Kendal pada waktu itu. Alasan inilah yang menjadi peluang pasar bagi Ibu Eni untuk menciptakan produk Bandeng Bram dengan tujuan dapat dijangkau dan dinikmati oleh setiap kalangan. Ibu Eni pun menyiasatinya dengan menjual ke warung-warung makan setempat dengan harga empat ribu rupiah untuk satu ikan bandeng presto berukuran kecil yang dapat dijadikan sebagai teman nasi.  


Produk Bandeng Bram


Permintaan ikan bandeng pun terus meningkat hingga akhirnya Ibu Eni memperluas usahanya dengan menerima pesanan katering dan produksi telur asin. Semua usaha yang dijalankan ini didukung oleh latar belakang pendidikan Ibu Eni yang merupakan alumnus Akademi Kesajahteraan Sosial, Yogyakarta dengan program studi Tata Boga. Ibu Eni mencoba menerapkan ilmu yang didapat semasa kuliah dengan membuka usaha ini.


Selain mengenyam bangku pendidikan secara formal, Ibu Eni juga memiliki pengalaman dalam memproduksi telur asin ketika membantu sang Ibunda membuat pesanan disetiap acara Dharma Wanita sejak dibangku kuliah dulu. Latar belakang inilah yang membuat Ibu Eni mantap melangkah untuk melebarkan sayap di bidang katering dan produksi telur asin. Seperti yang diketahui, beberapa menu katering diantaranya terdapat ikan bandeng yang diolah dalam bentuk presto, otak-otak, pepes, dan dendeng serta telur asin di dalamnya sehingga semua usaha yang dijalankan memiliki kesinambungan satu sama lain.    


Warung Ibu Eni Saptoyuni 


Tidak hanya menjadi pelaku usaha ultra mikro saja, Ibu Eni juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Ibu Eni sudah memiliki dua karyawan yang membantu dalam menjalankan semua usahanya. Ibu Eni juga menerapkan sistem dropship, yaitu memperbolehkan masyarakat sekitar untuk berjualan produk Bandeng Bram tanpa perlu mengeluarkan modal awal. Nantinya, mereka hanya perlu membayar produk Bandeng Bram yang sudah laku terjual.    


Ibu Eni Saptoyuni dengan Dua Karyawannya


Tahun demi tahun, usaha yang dijalankan Ibu Eni pun semakin berkembang dan mulai membutuhkan tambahan biaya modal usaha. Tepat di tahun 2019 inilah Ibu Eni mengenal pembiayaan ultra mikro (UMi) melalui KSPPS TAMZIS Bina Utama karena menjadi anggota di dalamnya.  


“Saya memilih pembiayaan UMi karena saya merasa adanya kedekatan. UMi ini tidak hanya sekadar pinjaman modal usaha saja, namun juga jelas dari segi mekanisme dan lainnya. Akhirnya saya memutuskan untuk meminjam modal usaha sebesar Rp 5 juta dan alhamdulillah sangat membantu,” ujar Ibu Eni saat dihubungi melalui sambungan telepon pada 27 Mei 2021.  


Setelah mendapatkan pinjaman pembiayaan UMi, Ibu Eni pun melanjutkan usahanya. Saat semuanya berjalan dengan lancar, tiba-tiba pandemi Covid-19 pun melanda dan merusak perekonomian hampir seluruh negara di dunia. Adanya pandemi tentu berimbas terhadap usaha yang dijalankan Ibu Eni, terutama usaha katering yang mati total pada saat itu. Satu per satu permasalahan lainnya pun muncul, yaitu pemasaran yang belum menyentuh ranah online sehingga membuat pesanan produk Bandeng Bram pun menurun secara drastis. 


Adanya pandemi ternyata tidak menjadi penghalang bagi Ibu Eni untuk terus berinovasi dikala PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilakukan di Kabupaten Kendal. Kebijakan PSBB membuat akses bertemu untuk berjualan ditutup. Oleh karena itu, produk Bandeng Bram mulai dikemas vakum dan dibuat dalam bentuk oleh-oleh khas Kabupaten Kendal agar waktu simpan ikan bandeng dapat bertahan lebih lama. 

“Karena kita tetap harus mencukupi kebutuhan hidup, akhirnya saya coba mulai jualan di status WhatsApp dengan mengubah kemasan yang sebelumnya siap santap kini menjadi kemasan vakum. Perubahan kemasan ini pun menjadi nilai lebih tersendiri di masa pandemi, yaitu tetap higienis dan aman dikonsumsi,” ujar Ibu Eni. 


Melihat dampak pandemi yang begitu besar dari segi ekonomi, Pusat Investasi Pemerintah selaku Badan Layanan Umum (BLU) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menaruh perhatian lebih kepada para debitur UMi diseluruh Indonesia. Salah satunya dengan melibatkan Ibu Eni untuk mengisi bazaar pada acara Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XI DPR dan Menteri Keuangan beserta Direktur Utama PIP, Direktur Utama LPEI dan Direktur Utama PT SMI dalam rangka fungsi pengawasan terkait penyaluran kredit ultra mikro dan KUR kepada UMKM, penyaluran kredit di luar KUR kepada UMKM dan Infrastruktur ke Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan pada 25-27 Maret 2021 di Pendopo Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. 


Ibu Eni Saptoyuni saat Mengikuti Bazaar di Pendopo Kabupaten Kendal


“Saya senang banget karena dikasih kesempatan untuk mengisi bazaar dan juga Bu Menteri mendatangi lapak saya jadinya produk saya semakin dikenal. Terima kasih banget PIP,” papar Ibu Eni yang merasa terbantu dengan adanya bazaar tersebut. 


Pusat Investasi Pemerintah juga turut membantu Ibu Eni untuk dapat berjualan secara online melalui marketplace. Tujuannya agar produk Bandeng Bram dapat dikenal luas masyarakat dan juga membantu perekonomian secara perlahan agar dapat kembali normal seperti sedia kala.       


“Selama pandemi ini saya pusing banget, mental saya cukup terganggu karena semua usaha drop dan keuangan pun berantakan. Alhamdulillah disaat kondisi pandemi seperti ini saya mendapatkan dukungan moril dari KSPPS TAMZIS Bina Utama dan juga PIP karena diberikan kelonggaran waktu dalam membayar cicilan pinjaman serta diajarkan cara berjualan online. Saya juga dibantu membuat akun Tokopedia dan mulai mencoba untuk memanfaatkan Facebook sebagai media promosi Bandeng Bram. Hasilnya ternyata di luar ekspektasi, pesanan yang datang pun banyak sekali,” papar Ibu Eni yang menceritakan perubahan pemasaran offline menjadi online. 


Ibu Eni juga menambahkan bahwa dengan melakukan promosi melalui Facebook membuat produk Bandeng Bram semakin dikenal luas masyarakat. Informasi ini sampai ke telinga sepasang suami istri yang sedang tinggal terpisah, yaitu suami di Indonesia dan istri di Hongkong karena tuntutan pekerjaan. Melihat peminat telur asin sangat tinggi dikalangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong, akhirnya pasangan ini pun menghubungi Ibu Eni untuk membeli telur asin sebanyak 100 butir setiap minggunya. 


Mekanisme penjualan yang dilakukan ialah sang suami mendatangi langsung ke tempat Ibu Eni setiap Rabu, kemudian melakukan pengiriman ke Hongkong dan tiba di hari Sabtu. Keesekokan harinya, para TKI pun berkumpul dan bercengkrama satu sama lain untuk menikmati hari liburnya sambil menyantap telur asin milik Ibu Eni. Pengiriman ke Hongkong ini sudah dilakukan sejak pertengahan Mei 2021 hingga saat ini.    

Perjalanan Bandeng Bram tentu masih panjang, menyentuh pasar online merupakan langkah awal untuk bersinar lebih luas lagi. 


Pemesanan produk Bandeng Bram dapat menghubungi : 

WhatsApp       : +62 813-2605-2687

Instagram        : @bandeng.bram

Tokopedia       : BandengBramOfficial

Facebook        : Eni Saptoyuni


Penulis : Kalika (www.umi.id) 

Sangat Membantu Kurang Membantu